Minggu, 18 Januari 2015

KISAH ORANG YANG MENGATAKAN BAHWA ‪‎MAULID NABI BID’AH SAYYI`AH



KISAH ORANG YANG MENGATAKAN BAHWA MAULID NABI BIDAH SAYYI`AH
(diceritakan oleh Sayyid Alawi Al Maliki dari abahnya, Sayyid Abbas Al Maliki –rahimahumallaahu-)

تَنْبِيْهٌ
PERINGATAN

حَكَى السَّيِّدُ عَلَوِي اَلْمَالِكِيُّ أَنَّ وَالِدَهُ اَلْمَرْحُوْمَ السَّيِّدَ عَبَّاسْ اَلْمَالِكِيَّ رَحِمَهُ اللهُ أَخْبَرَهُ أَنَّهُ حَضَرَ فِيْ بَيْتِ الْمَقْدِسِ اِحْتِفَالًا نَبَوِيًّا لَيْلَةَ عِيْدِ الْمِيْلَادِ النَّبَوِيِّ تُلِيَ فِيْهِ مَوْلِدُ الْبَرْزَنْجِيِّ فَإِذَا رَجٌلٌ أَشْيَبُ قَامَ بِغَايَةِ الْأَدَبِ مِنْ أَوَّلِ الْمَوْلِدِ إِلَى نِهَايَتِهِ وَأَفَادَهُ لَمَّا سَأَلَهُ عَنْ سَبَبِ وُقُوْفِهِ مَعَ كِبَرِ سِنِّهِ بِأَنَّه كَانَ لَا يَقُوْمُ عِنْدَ ذِكْرِ الْمِيْلَادِ النَّبَوِيِّ وَيَعْتَقِدُ أَنَّهُ بِدْعَةٌ سَيِّئَةٌ فَرَأَى فِيْ نَوْمِهِ أَنَّهُ مَعَ جَمَاعَةٍ مُتَهَيِّئِيْنَ لِاسْتِقْبَالِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا طَلَعَ لَهُمْ بَدْرُ مُحَيَّاهُ وَنَهَضَ الْجَمِيْعُ لِاسْتِقْبَالِهِ لَمْ يَسْتَطِعْ هُوَ الْقِيَامَ لِذَلِكَ وَقَالَ لَهُ الرَّسُوْلُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْتَ لَا تَسْتَطِيْعُ الْقِيَامَ فَمَا اسْتَيْقَظَ إِلَّا وَهُوَ مُقْعَدٌ وَبَقِيَ عَلَى هَذَا الْحَالِ عَامًا فَنَذَرَ إِنْ شَفَاهُ اللهُ مِنْ مَرَضِهِ هَذَا يَقُوْمُ مِنْ أَوَّلِ قِرَاءَةِ الْمَوْلِدِ إِلَى غَايَتِهِ (نِهَايَتِهِ) فَعَافَاهُ اللهُ مِنْ ذَلِكَ وَلَمْ يَزَلْ قَائِمًا بِوَفَاءِ نَذْرِهِ تَعْظِيْمًا لَهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

 Sayyid Alawi Al Maliki menceritakan bahwasanya abah beliau, Sayyid Abbas Al Maliki memberi khabar kepada beliau sesungguhnya abah beliau (sayyid Abbas  Al Maliki) berada di Baitul Maqdis  untuk menghadiri peringatan Maulid Nabi pada malam ‘ied Milad Annabawi, di mana saat itu dibacakan Maulid al Barzanji.

Saat itulah beliau melihat seorang pria tua beruban yang berdiri dengan khidmat penuh adab mulai dari awal sampai acara selesai. Kemudian beliau bertanya kepadanya akan sikapnya itu, yaitu berdiri sementara usianya sudah tua

Lelaki tua itu bercerita bahwa dulu ia tidak mau berdiri pada  acara peringatan Maulid Nabi dan ia memiliki keyakinan bahwa perbuatan itu adalah bid'ah sayyi'ah (bid'ah yg jelek)

Suatu malam ia bermimpi dalam tidurnya. Dia bersama sekelompok orang yg bersiap-siap menunggu kedatangan Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam, maka saat cahaya wajah beliau yang bagaikan bulan purnama muncul, sekelompok orang itu bangkit dengan berdiri menyambut kehadiran Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam

Namun hanya ia saja seorang diri yang tidak  mampu bangkit untuk berdiri. Lalu Rasullullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda kepadanya: "Kamu tidak akan bisa berdiri" Saat ia bangun dari tidurnya ternyata ia dalam keadaan duduk dan tidak mampu berdiri. Hal ini ia alami selama 1 (satu) tahun. Kemudian ia pun bernadzar jika Allah menyembuhkan sakitnya ini ia akan berdiri mulai awal pembacaan Maulid Nabi sampai akhir bacaan

Kemudian Allah menyembuhkannya. Ia pun selalu berdiri (mulai awal pembacaan Maulid Nabi sampai akhir bacaan) untuk  memenuhi nadzarnya karena ta’zhim (mengagungkan) beliau Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam.


Sumber:
Kitab Al-Hadyuttaamm  fii Mawaaridilmaulidinnabawiyyi wa Maa I’tiida fiihi Minal Qiyaam, hal 50-51, karya Sayyid Muhammad Ali bin Husein al Maliki al Makki (1287 H – 1367 H)




Minggu, 11 Januari 2015

HIKAYAH SEORANG PEMUDA PENUNGGANG KUDA YANG MENABRAK PUTRA KHALIFAH ABDUL MALIK BIN MARWAN DAN SELAMAT DARI HUKUMAN QISHOSH BERKAT MAULID NABI SHALLALLAAHU ‘ALAIHI WASALLAM







HIKAYAH SEORANG PEMUDA PENUNGGANG KUDA YANG MENABRAK PUTRA KHALIFAH ABDUL MALIK BIN MARWAN DAN SELAMAT DARI HUKUMAN QISHOSH BERKAT  MAULID NABI SHALLALLAAHU ‘ALAIHI WASALLAM


وَحُكِيَ أَنَّهُ كَانَ فِيْ زَمَانِ الْخَلِيْفَةِ عَبْدِ الْمَلِكِ بْنِ مَرْوَانَ شَابٌّ حَسَنُ الصُّوْرَةِ فِي الشَّامِ وَكَانَ يَلْهُوْ بِرُكُوْبِ الْخَيْلِ
فَبَيْنَمَا هُوَ ذَاتَ يَوْمٍ عَلَى ظَهْرِ حِصَانِهِ إِذْ أَجْفَلَ الْحِصَانُ وَحَمَلَهُ فِيْ سِكَكِ الشَّامِ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ قُدْرَةٌ عَلَى مَنْعِهِ فَوَقَعَ طَرِيْقُهُ عَلَى بَابِ الْخَلِيْفَةِ فَصَادَفَ وَلَدَهُ وَلَمْ يَقْدِرْ الْوَلَدُ عَلَى رَدِّ الْحِصَانِ فَصَدَمَهُ بِالْفَرَسِ وَقَتَلَهُ فَوَصَلَ الْخَبَرُ إِلَى الْخَلِيْفَةَ فَأَمَرَ بِإِحْضَارِهِ
فَلَّمَا أَنْ أَشْرَفَ إِلَيْهِ خَطَرَ عَلَى بَالِهِ أَنْ قَالَ إِنْ خَلَّصَنِيَ اللهُ تَعَالَى مِنْ هَذِهِ الْوَاقِعَةِ أَعْمَلُ وَلِيْمَةً عَظِيْمَةً وَأَسْتَقْرِىءُ فِيْهَا مَوْلِدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا حَضَرَ قُدَّامَهُ وَنَظَرَ إِلَيْهِ ضَحِكَ بَعْدَمَا كَانَ يَخْنُقُهُ الْغَضَبُ فَقَالَ يَا هَذَا أَتُحْسِنُ السِّحْرَ قَالَ لَا وَاللهِ يَا أَمِيْرَ الْمُؤْمِنِيْنَ
فَقَالَ عَفَوْتُ عَنْكَ وَلَكِنْ قُلْ لِيْ مَاذَا قُلْتَ قَالَ قُلْتُ إِنْ خَلَّصَنِيَ اللهُ تَعَالَى مِنْ هَذِهِ الْوَاقِعَةِ الْجَسِيْمَة أَعْمَلُ لَهُ وَلِيْمَةً لِأَجْلِ مَوْلِدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
فَقَالَ الْخَلِيْفَةُ قَدْ عَفَوْتُ عَنْكَ وَهَذِهِ أَلْفُ دِيْنَارٍ لِأَجْلِ مَوْلِدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَنْتَ فِيْ حِلٍّ مِنْ دَمِ وَلَدِيْ
فَخَرَجَ الشَّابُّ وَعُفِيَ عَنِ الْقِصَاصِ وَأَخَذَ أَلْفَ دِيْنَارٍ بِبَرَكَةِ مَوْلِدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ


Diceritakan pada masa Khalifah Abdul Malik bin Marwan ada seorang pemuda yang berperawakan menawan di kota Syam. Dia mempunyai kesukaan menunggang kuda.

Suatu ketika dia berada di punggung kudanya dan tiba-tiba kuda yang di tungganginya lari dengan kencang, Kuda tersebut membawanya lari melewati jalan-jalan sempit di kota Syam,  dia tidak mampu menghentikan kudanya, dan terus berlari menuju kearah pintu gerbang Khalifah, dan berpapasan dengan  putra sang Khalifah, sang putra tsb tidak mampu menahan laju kuda dan akhirnya tertabraklah dia oleh kuda tsb. Sang putra khalifahpun terbunuh olehnya. Dan berita kejadian itupun telah sampai ke telinga khalifah. Lalu sang Khalifah menyuruh si pemuda itu ditangkap dan didatangkan kehadapannya.

Ketika pemuda itu hampir tiba di hadapan khalifah, dia berkata dalam hati : “Seandainya Allah SWT menyelamatkanku dari peristiwa ini, aku akan menyelenggarakan walimah yang besar dan aku akan meminta dibacakan Maulid Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam”.           

Setelah pemuda itu sampai di hadapan Khalifah, sang Khalifah memandanginya, lalu khalifah tertawa, padahal sebelumnya dia terbakar api amarah. Kemudian sang Khalifah bertanya; “Wahai pemuda apakah kau pandai ilmu sihir?”.  “Tidak, demi Allah wahai Amirul mukminin”, jawab si pemuda.

Khalifah berkata: “Aku telah memaafkanmu, tapi katakan padaku apa yang ada dihatimu?”. Aku berkata dalam hati : “Seandainya Allah SWT menyelamatkanku dari kejadian yang dahsyat ini, aku akan mengadakan walimah untuk Maulid Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam”. jawab si pemuda.

Sang Khalifah pun kemudian berkata : “Baiklah aku lepaskan kamu dari hukuman ini dan ini seribu dinar untuk mengadakan acara Maulid Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam. Engkau telah terbebas dari darah anakku”.

Kemudian si pemuda itu beranjak pergi dari hadapan sang Khalifah. Dia dimaafkan dari hukuman qishash dan dia mendapatkan seribu dinar  dengan  keberkahan Maulid Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam.


Sumber:
Kitab I’anatuththolibin juz 3 halaman 365
Wallaahu A’lamu Bishshowaab

Minggu, 28 Desember 2014

HIKAYAT SEORANG PEMUDA YANG SUKA MENGADAKAN PERINGATAN MAULID NABI MUHAMMAD SHALLALLAAHU ‘ALAIHI WASALLAM



HIKAYAT SEORANG PEMUDA YANG SUKA MENGADAKAN PERINGATAN  MAULID NABI MUHAMMAD SHALLALLAAHU ‘ALAIHI WASALLAM

( وَحُكِيَ ) أَنَّهُ كَانَ فِيْ زَمَانِ أَمِيْرِ الْمُؤْمِنِيْنَ هَارُوْنَ الرَّشِيْدِ شَابٌّ فِي الْبَصْرَةِ مُسْرِفٌ عَلَى نَفْسِهِ وَكَانَ أَهْلُ الْبَلَدِ يَنْظُرُوْنَ إِلَيْهِ بِعَيْنِ التَّحْقِيْرِ لِأَجْلِ أَفْعَالِهِ الْخَبِيْثَةِ غَيْرَ أَنَّهُ كَانَ إِذَا قَدِمَ شَهْرُ رَبِيْعِ الْأَوَّلِ غَسَلَ ثِيَابَهُ وَتَعَطَّرَ وَتَجَمَّلَ وَعَمِلَ وَلِيْمَةً وَاسْتَقْرَأَ فِيْهَا مَوْلِدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَدَامَ عَلَى هَذَا الْحَالِ زَمَانًا طَوِيْلًا

ثُمَّ لَمَّا مَاتَ سَمِعَ أَهْلُ الْبَلَدِ هَاتِفًا يَقُوْلُ اُحْضُرُوْا يَا أَهْلَ الْبَصْرَةِ وَاشْهَدُوْا جَنَازَةَ وَلِيٍّ مِنْ أَوْلِيَاءِ اللهِ فَإِنَّهُ عَزِيْزٌ عِنْدِيْ فَحَضَرَ أَهْلُ الْبَلَدِ جَنَازَتَهُ وَدَفَنُوْهُ


فَرَأَوْهُ فِي الْمَنَامِ وَهُوَ يَرْفُلُ فِيْ حُلَلِ سُنْدُسٍ وَاِسْتَبْرَقٍ فَقِيْلَ لَهُ بِمَ نِلْتَ هَذِهِ الْفَضِيْلَةَ قَالَ بِتَعْظِيْمِ مَوْلِدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ


Diceritakan, pada zaman Amirul Mukminin Harun Ar-Rasyid ada seorang anak muda di kota Bashrah. Ia melewati batas dalam perbuatannya (ugal-ugalan), sehingga penduduk kota Bashrah menatapnya dengan pandangan merendahkan karena perbuatannya yang buruk, hanya saja jika setiap kali masuk bulan Rabiul Awal ia selalu mencuci baju yang dikenakannya, memakai wewangian, berhias diri. Ia membuat walimah dan minta agar dibacakan Maulid Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam  begitu dan begitulah setiap ia masuk bulan Rabiul Awal.
Kemudian ketika kematian menjemput anak muda tersebut, penduduk kota Bashrah mendengar suara tanpa rupa, berkata:
“Wahai penduduk Bashrah, hadirilah dan saksikanlah jenazah wali diantara wali-wali Allah SWT, karena dia menurutku adalah orang yang mulia”.

Maka penduduk kota Bashrah pun menghadiri jenazahnya dan menguburnya dengan baik.

Kemudian mereka bermimpi bertemu dengan anak muda tsb, dia berada didalam kenikmatan besar, Dia berpakaian sutera, lalu dia ditanyai “Dengan apa engkau mendapat kehormatan ini semua ?” dia menjawab “Berkat mengagungkan kelahiran baginda Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam”.



Sumber:
Kitab I’anatuththalibin juz 3 halaman 365

Wallaahu A’lam

Minggu, 21 Desember 2014

Keutamaan Panggonan Ingkang di waca`ake Maulid Nabi Muhammad shallallaahu 'alaihi wasallam



Keutamaan Panggonan Ingkang di waca`ake Maulid Nabi

قَالَ سُلْطَانُ الْعَارِفِيْنَ جَلَالُ الدِّيْنِ السُّيُوْطِيُّ فِيْ كِتَابِهِ الْوَسَائِلِ فِيْ شَرْحِ الشَّمَائِلِ
مَا مِنْ بَيْتٍ أَوْ مَسْجِدٍ أَوْ مَحَلَّةٍ قُرِئَ فِيْهِ مَوْلِدُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَّا حَفَّتِ الْمَلاَئِكَةُ بِأَهْلِ ذَلِكَ الْمَكَانِ ، وَعَمَّهُمُ اللهُ بِالرَّحْمَةِ وَالْمُطَوَّقُوْنَ بِالنُّوْرِ يَعْنِيْ جِبْرَائِيْلَ وَمِيْكَائِيْلَ وَإِسْرَافِيْلَ وَقَرْبَائِيْلَ وَعَيْنَائِيْلَ وَالصَّافُّوْنَ وَالْحَافُّوْنَ وَالْكَرُوْبِيُّوْنَ فَإِنَّهُمْ يُصَلُّوْنَ عَلَى مَنْ كَانَ سَبَبًا لِقِرَاءَةِ مَوْلِدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ


Ngendiko sopo Sulthanul ‘Arifin Jalaluddin As Suyuthi ingdalem kitabe “Al Wasaa`il Fii Syarhisysyamaa`il:
Ora ono utawi omah utowo mesjid utowo tempat tinggal ingkang  diwaca`ake ingdalem iku panggonan opo Maulid Nabi Muhammad shallallaahu ‘alahi wasallam anging iku ngepung sopo poro agung Malaikat kelawan ahline mengkono-menkono panggonan. Lan nyumrambahi sopo Gusti Allah kelawan rahmat, lan poro agung Malaikat ingkang podo dilimputi  kelawan cahyo, yoiku: Jibril, Mikail, Israfil, Qarbail Ainail, lan poro agung Malaikat ingkang podo baris, lan poro agung Malaikat ingkang podo anglilingi lan poro agung Malaikat Karubiyyun (gustine poro agung Malaikat), kabeh mau podo nyuwunake pengapuro marang wong-wong ingkang dadi sebab anane moco maulid Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam


قَالَ : وَمَا مِنْ مُسِلِمٍ قُرِئَ فِيْ بَيْتِهِ مَوْلِدُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَّا رَفَعَ اللهُ تَعَالَى الْقَحْطَ وَالْوَبَاءَ وَالْحَرْقَ وَالآفَاتِ وَالْبَلِيَّاتِ وَالْبُغْضَ وَالْحَسَدَ وَعَيْنَ السُّوْءِ وَاللُّصُوْصَ عَنْ أَهْلِ ذَلِكَ الْبَيْتِ، فَإِذَا مَاتَ هَوَّنَ اللهُ تَعَالَى عَلَيْهِ جَوَابَ مُنْكَرٍ وَنَكِيْرٍ، وكَانَ فِيْ مَقْعَدِ صِدْقٍ عِنْدَ مَلِيْكٍ مُقْتَدِرٍ


Imam Suyuthi ngendiko maneh : Ora ono utawi wong Islam, iku diwaca-ake Maulid kanjeng Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam anging Gusti Alloh bakal ngilangi saking ahline omah iku , opo paceklik , wabah , kobongan , ponco boyo , bilahi , malapetaka , dendam , hasud , penyakit ‘ain ingkang olo, kemalingan. Naliko wong mau mati , mongko Gusti Alloh bakal nggampangake anggone jawab M alaikat Munkar lan Nakir , lan wong mau bakal katempatake ingdalem palungguhan ingkang temen , ingdalem ngarsane Dzat Ingkang Ngratoni , Ingkang Moho Kuat lan Ingkang Kuoso


Sumber: Kitab I’anatuththolibin juz 3 halaman 35